Serenade Orang Urban
Tajuk KBR68H
Rabu, 1 Nopember 2006
Selamat datang kembali ke Jakarta, wahai pemudik. Selamat bekerja kembali di kota yang tak pernah ramah kepada Anda. Jadi, jangan berharap ia tersenyum apalagi memeluk sanak keluarga yang menyertai Anda pada kedatangan setelah lebaran kali ini.
Ketidakramahan itu dikenal dengan nama sandi Operasi Yustisi. Jakarta yang sudah kebak oleh penduduk diharapkan tidak lagi didatangi oleh orang baru. Kota ini makin sesak oleh pembangunan perbelanjaan, kedatangan manusia, dan reproduksi tikus-tikus yang kini adu banyak dengan warga.
Operasi Yustisi serentak bakal dilakukan dua pekan setelah lebaran. Masih sepekan lagi. Orang-orang yang ditemui di Jakarta akan diperiksa identitasnya. Bila tanpa kartu tanda penduduk ibukota akan ditanya-tanya, dimintai surat keterangan dari pemberi kerja. Kalau semuanya tak ada, mereka bakal dipulangkan.
Jakarta yang tak ramah, tetap saja digemari. Selagi mimpi-mimpi ditaburkan ke seluruh desa dan kemajuan mandek di desa-desa tersebut, Jakarta—dan beberapa kota besar—tetaplah sandaran angan. Orang tetap berhamburan datang dengan niat keluar dari cekik kemiskinan. Migrasi orang-orang desa berebut tempat dengan tikus-tikus di Jakarta, menjadi migrasi vertikal. Berniat mi’raj dari kondisi di bawah menuju posisi-posisi di atasnya.
Kedatangan mereka ke Jakarta mengundang masalah bagi pengelola kota, bisa dibilang iya. Pengelola Jakarta lalu menerapkan pendekatan yang keras, juga wajar. Karena hanya pendekatan dengan cara keras sajalah yang dikenal pengelola kota ini. Kendati tahu juga bahwa cara terbaik untuk mencegah mobilisasi—kalau mau dicegah—orang desa ke kota ialah dengan menularkan kemakmuran ke setiap rumah yang didirikan di negeri ini. Mencegah ada keluarga yang membuat rumah seadanya di kolong-kolong jembatan.
Kuncinya, seperti juga diketahui oleh pengelola kota bahkan pengelola negara ialah: menyingkirkan kemiskinan. Dalam pengertian ini, bukan menyingkirkan orang miskin, ya. Bahwa penyingkiran kemiskinan belum menjadi proyek utama yang menyeluruh dan bersama, ini yang mengherankan. Program yang digelar untuk mengatasi kemiskinan sekadar program survival harian. Cukup sudah perut orang miskin bisa makan hari ini dulu, besok lihat lagi.
Pemerintah kita: Presiden, wakilnya, gubernur-gubernur, perlu belajar banyak kepada Luiz Inacio Lula da Silva. Presiden, wakilnya dan gubernur-gubernur, selama ini hanya berpikir tentang mempertahankan kekuasaan. Tapi seperti lupa bagaimana cara elegan mempertahankannya. Lula membuktikan orang miskin tak pernah lupa kepada orang yang dianggap membantunya. Pemilu Brasil, hari Minggu lalu, dimenangkan Lula secara mutlak dengan perolehan suara 60 persen lebih. Kemenangan hadiah dari puluhan juta orang miskin yang menganggap Lula berhasil mengurangi kemiskinan sekaligus memperbaiki ekonomi Brasil. []
Rabu, 1 Nopember 2006
Selamat datang kembali ke Jakarta, wahai pemudik. Selamat bekerja kembali di kota yang tak pernah ramah kepada Anda. Jadi, jangan berharap ia tersenyum apalagi memeluk sanak keluarga yang menyertai Anda pada kedatangan setelah lebaran kali ini.
Ketidakramahan itu dikenal dengan nama sandi Operasi Yustisi. Jakarta yang sudah kebak oleh penduduk diharapkan tidak lagi didatangi oleh orang baru. Kota ini makin sesak oleh pembangunan perbelanjaan, kedatangan manusia, dan reproduksi tikus-tikus yang kini adu banyak dengan warga.
Operasi Yustisi serentak bakal dilakukan dua pekan setelah lebaran. Masih sepekan lagi. Orang-orang yang ditemui di Jakarta akan diperiksa identitasnya. Bila tanpa kartu tanda penduduk ibukota akan ditanya-tanya, dimintai surat keterangan dari pemberi kerja. Kalau semuanya tak ada, mereka bakal dipulangkan.
Jakarta yang tak ramah, tetap saja digemari. Selagi mimpi-mimpi ditaburkan ke seluruh desa dan kemajuan mandek di desa-desa tersebut, Jakarta—dan beberapa kota besar—tetaplah sandaran angan. Orang tetap berhamburan datang dengan niat keluar dari cekik kemiskinan. Migrasi orang-orang desa berebut tempat dengan tikus-tikus di Jakarta, menjadi migrasi vertikal. Berniat mi’raj dari kondisi di bawah menuju posisi-posisi di atasnya.
Kedatangan mereka ke Jakarta mengundang masalah bagi pengelola kota, bisa dibilang iya. Pengelola Jakarta lalu menerapkan pendekatan yang keras, juga wajar. Karena hanya pendekatan dengan cara keras sajalah yang dikenal pengelola kota ini. Kendati tahu juga bahwa cara terbaik untuk mencegah mobilisasi—kalau mau dicegah—orang desa ke kota ialah dengan menularkan kemakmuran ke setiap rumah yang didirikan di negeri ini. Mencegah ada keluarga yang membuat rumah seadanya di kolong-kolong jembatan.
Kuncinya, seperti juga diketahui oleh pengelola kota bahkan pengelola negara ialah: menyingkirkan kemiskinan. Dalam pengertian ini, bukan menyingkirkan orang miskin, ya. Bahwa penyingkiran kemiskinan belum menjadi proyek utama yang menyeluruh dan bersama, ini yang mengherankan. Program yang digelar untuk mengatasi kemiskinan sekadar program survival harian. Cukup sudah perut orang miskin bisa makan hari ini dulu, besok lihat lagi.
Pemerintah kita: Presiden, wakilnya, gubernur-gubernur, perlu belajar banyak kepada Luiz Inacio Lula da Silva. Presiden, wakilnya dan gubernur-gubernur, selama ini hanya berpikir tentang mempertahankan kekuasaan. Tapi seperti lupa bagaimana cara elegan mempertahankannya. Lula membuktikan orang miskin tak pernah lupa kepada orang yang dianggap membantunya. Pemilu Brasil, hari Minggu lalu, dimenangkan Lula secara mutlak dengan perolehan suara 60 persen lebih. Kemenangan hadiah dari puluhan juta orang miskin yang menganggap Lula berhasil mengurangi kemiskinan sekaligus memperbaiki ekonomi Brasil. []