Polyphonic Yes, Poligami No
Tajuk KBR68H
Rabu, 6 Desember 2006
Satu-satunya perkawinan yang mengundang penghuni Istana rapat, mungkin hanya perkawinan kedua Abdullah Gymnastiar. Praktik poligami Aa Gym—begitu ia populer dipanggil—membuat layanan pesan pendek Presiden kebanjiran protes. Buntutnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta dipanggil untuk bicara kemungkinan mengubah materi undang-undang dan sejumlah peraturan pemerintah tentang perkawinan.
Aa Gym pastilah dai kondang yang namanya betul-betul melangit. Pasti. Buktinya praktik poligami atau nikah siri banyak kiai tidak terlalu mengundang peduli Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Perhatian dan reaksi cepat Presiden konon setelah mendapat desakan dari istrinya, Kristiani Herawati yang lebih dikenal dengan nama Nyonya Ani Yudhoyono, tapi ini sungguh tidak penting. Boleh saja ia ingin sekali lagi merebut perhatian ibu-ibu seperti saat pemilihan umum. Dan karena ibu-ibu merupakan basis pemilihnya, Yudhoyono wajib melayani. Tapi, ini pun sungguh tidak penting. Rasanya betul apa yang diungkapkan Menteri Meutia Hatta, “Presiden mempunyai kepedulian besar terhadap kaum perempuan dan ia menginginkan ketentraman dalam masyarakat.”
Mengapa Aa mengawini Alfarini Eridani? Katanya ketimbang berzinah atau mencari teman tapi mesum disingkat TTM. Istri pertama Aa, Ninih Muthmainah Muhsin, ikut mendampingi saat ia memberi keterangan kepada publik melalui wartawan. Seperti mau menunjukkan tidak ada tekanan atau pemaksaan kepada istri pertama. Protes Teteh Ninih hanya disampaikan secara tersirat. Katanya, “Teteh mengharap mendapat surga. Salah satu syarat masuk surga adalah berbakti kepada suami.” Sebelumnya, Teteh selalu panas dingin dan demam jika mendengar orang bicara poligami.
Perkawinan kedua Aa Gym mengundang protes karena mulanya ia dianggap oleh banyak kelompok pengajian sebagai sosok ‘lain’ atau sosok yang berbeda dari kiai, ustadz dan dai yang ada. Ia segar, cerdas, sederhana sekaligus paham memanfaatkan manajemen dan perangkat modern. Tidak teriak-teriak saat ceramah. Ganteng pula. Nyatanya, ia berpoligami. Ini menyayat hati penggemarnya. Apalagi ia berargumentasi secara basi, tidak memberi kesegeran dan kecerdasan baru seperti saat berceramah. Aa Gym hanya mengulang tuturan para pelaku poligami pendahulunya: Al Quran, coy. Atau: sunah Rasul, brur.
Bila sunah diajukan sebagai argumentasi, ada konteks faktual semasa Muhammad hidup. Dan ini pun mengundang perdebatan yang ujungnya melarang poligami. Sebab, fakta yang jelas ialah 28 tahun Muhammad hanya beristri seorang Khadijah. Padahal konteks ruang masa itu, poligami sungguh lumrah. Muhammad berpoligami setelah dua tahun Khadijah meninggal dunia. Ia menikahi janda-janda yang hampir mati agar jenazahnya mendapat penghormatan. Kecuali satu, Aisyah binti Abu Bakr. Yang tidak boleh dilupakan ialah ketika Muhammad marah besar saat Ali bin Abi Thalib berniat kawin lagi padahal sudah beristri Fathimah binti Muhammad.
Ayat-ayat dalam An-Nisa yang kerap jadi rujukan poligami, sesungguhnya diakui oleh banyak ahli agama, menganggap poligami sebagai perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang. Bukan semata-mata janda, bukan semata-mata yatim piatu. Filsuf Islam, Muhammad Abduh, lebih memilih mengharamkan poligami. Kita di Indonesia, yatim piatu dan janda terlantar, sepatutnya dilindungi negara seperti ditegaskan konstitusi. Karena itu, tidak perlu ditiduri. []
Rabu, 6 Desember 2006
Satu-satunya perkawinan yang mengundang penghuni Istana rapat, mungkin hanya perkawinan kedua Abdullah Gymnastiar. Praktik poligami Aa Gym—begitu ia populer dipanggil—membuat layanan pesan pendek Presiden kebanjiran protes. Buntutnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta dipanggil untuk bicara kemungkinan mengubah materi undang-undang dan sejumlah peraturan pemerintah tentang perkawinan.
Aa Gym pastilah dai kondang yang namanya betul-betul melangit. Pasti. Buktinya praktik poligami atau nikah siri banyak kiai tidak terlalu mengundang peduli Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Perhatian dan reaksi cepat Presiden konon setelah mendapat desakan dari istrinya, Kristiani Herawati yang lebih dikenal dengan nama Nyonya Ani Yudhoyono, tapi ini sungguh tidak penting. Boleh saja ia ingin sekali lagi merebut perhatian ibu-ibu seperti saat pemilihan umum. Dan karena ibu-ibu merupakan basis pemilihnya, Yudhoyono wajib melayani. Tapi, ini pun sungguh tidak penting. Rasanya betul apa yang diungkapkan Menteri Meutia Hatta, “Presiden mempunyai kepedulian besar terhadap kaum perempuan dan ia menginginkan ketentraman dalam masyarakat.”
Mengapa Aa mengawini Alfarini Eridani? Katanya ketimbang berzinah atau mencari teman tapi mesum disingkat TTM. Istri pertama Aa, Ninih Muthmainah Muhsin, ikut mendampingi saat ia memberi keterangan kepada publik melalui wartawan. Seperti mau menunjukkan tidak ada tekanan atau pemaksaan kepada istri pertama. Protes Teteh Ninih hanya disampaikan secara tersirat. Katanya, “Teteh mengharap mendapat surga. Salah satu syarat masuk surga adalah berbakti kepada suami.” Sebelumnya, Teteh selalu panas dingin dan demam jika mendengar orang bicara poligami.
Perkawinan kedua Aa Gym mengundang protes karena mulanya ia dianggap oleh banyak kelompok pengajian sebagai sosok ‘lain’ atau sosok yang berbeda dari kiai, ustadz dan dai yang ada. Ia segar, cerdas, sederhana sekaligus paham memanfaatkan manajemen dan perangkat modern. Tidak teriak-teriak saat ceramah. Ganteng pula. Nyatanya, ia berpoligami. Ini menyayat hati penggemarnya. Apalagi ia berargumentasi secara basi, tidak memberi kesegeran dan kecerdasan baru seperti saat berceramah. Aa Gym hanya mengulang tuturan para pelaku poligami pendahulunya: Al Quran, coy. Atau: sunah Rasul, brur.
Bila sunah diajukan sebagai argumentasi, ada konteks faktual semasa Muhammad hidup. Dan ini pun mengundang perdebatan yang ujungnya melarang poligami. Sebab, fakta yang jelas ialah 28 tahun Muhammad hanya beristri seorang Khadijah. Padahal konteks ruang masa itu, poligami sungguh lumrah. Muhammad berpoligami setelah dua tahun Khadijah meninggal dunia. Ia menikahi janda-janda yang hampir mati agar jenazahnya mendapat penghormatan. Kecuali satu, Aisyah binti Abu Bakr. Yang tidak boleh dilupakan ialah ketika Muhammad marah besar saat Ali bin Abi Thalib berniat kawin lagi padahal sudah beristri Fathimah binti Muhammad.
Ayat-ayat dalam An-Nisa yang kerap jadi rujukan poligami, sesungguhnya diakui oleh banyak ahli agama, menganggap poligami sebagai perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang. Bukan semata-mata janda, bukan semata-mata yatim piatu. Filsuf Islam, Muhammad Abduh, lebih memilih mengharamkan poligami. Kita di Indonesia, yatim piatu dan janda terlantar, sepatutnya dilindungi negara seperti ditegaskan konstitusi. Karena itu, tidak perlu ditiduri. []